Suatu kebiasaan yang tak asing jika aku tiba-tiba berada di tempat tidur Aisyah. Namun ini adalah hal yang lain dari pada yang lain. “The Door” city yang kini jadi rumah keduaku akan aku jadikan sarana tercapainya salah satu misi liburan semester kali ini..Yach.. hunting spuasssnya…
Sesuai kesepakatan dalam perjanjian. Maka, setelah visa Aisyah tinggal di Mbayang habis, maka akulah yang bertolak menuju The Door city demi menikmati wisata andalan Aisyah “Kebon Teh Wonosari”.
Sepulang dari Sumberjo (tempat terbukanya berbagai pintu untukku dan Aisyah), 471nomoto menjadi tujuan kedua. Jadi sekitar jam sembilan malam kami baru tiba di The Door city. O yaa,, waktu di Sumberjo HPnya Aisyah jumping, eeh Aisyah malah kayak orang kesambet. Aku panggil-panggil ndak dijawab “Aisyah..Syah..itu jatuh..lho syah ambilen!!” “lho,kok diem”, yang lebih menakutkan lagi dia nggak bergerak SEDIKITPUN dalam waktu yang lammaa!. Hemm itulah salah sifat uniknya, kalau terkejut, sadarnya lumayan luama, biarlah, asal tidak amnesia saja. Hi..hi..
The Door City.
Nah inilah yang sangat aku nanti… Sebuah keluarga yang sangat memperhatikan kehadiranku. Walaupun aku datang tak diundang, tapi baik keberadaan serta kepulanganku senantiasa diperhatikan. Kekagumanku pada kelihaian memasak Ibu Aisyah sungguh tak terlukiskan. Bayangin aja SETIAP aku kesana, sebuah masakan kesukaanku sudah tersaji sebelum aku datang. Masakan berbahan dasar……Mushroom!!! Jenis masakannya bervariasi mulai dari semur, sop, tumis, bumbu bali lan sak lintunipun, dan yang paling aku suka adalaah… fried mushroomnya, ennaaaq BGT. Klau mashroomnya tidak ada, ada cadangannya, aku memiliki food favorite yang sama ma Ibunya Aisya, kacang gundhul. Biasanya dimasak pakai buah pepaya muda dan santan… hemmm nyummy. Thank you very much Mom..
Rutinitas ngomes sebelum do’a mau tidur membuat aku dan Aisyah bangun kesiangan. Saat-waktu menunjukkan anak onta mulai kepanasan yang amat panas, aku dan Aisyah berangkat menuju “Kebon Teh Wonosari”. Selama perjalanan, aku mempunyai guide yang tidak mengecewakan. “Itu lho rumahnya Rika”, “aku dulu ngaji di situ”, “lihat, itu pondokan baru”, “turun di kebun teh dekat kolam aja ya”, “nanti fotonya di panggung diatas kebon saja” wez…guideku pokoke siip!.
Hamparan teh menarik imajinasiku untuk naik dan berjalan diatasnya. Tapi, gaya narsis aku dan Aisyah meluluhkannya. Bakat alamiah kami langsung keluar. Cepret sana, cepret sini, cepret, cepret. Ugh.. laksana sebuah pemotretan model kelas atas. Bahkan seorang pengunjung rela meluangkan waktunya untuk mengambil gambar imut kami. Bagai pinang berbiji satu, ternyata dua otak insan ini mempunyai tujuan yang sama “pasang aksi dengan para pemetik teh”. Ku telusuri jalan setapak demi bertemu pemetik teh yang belum selesai memetik teh. Setelah bertemu, ternyata mereka sedang makan siang. Tak terelakkan ternyata perut kamipun membutuhkan suplay makanan juga. Sambil menunggu, santapan beberapa snack dan ice cream memenuhi rongga usus kami. DASAR LEMOT, makannya kelamaan. So, waktu mau disamperin, pemetik tehnya sudah pulang.. Hiks..hiks… Kecewa..? Pasti!!!
Tidak patah semangat, kami turun ke kebon teh yang ada di bawah. Kami percepat langkah tak perduli hingga nafas terengah-engah. Alhamdulillah, pemetiknya masih ada. Dengan semangat empat lima, kuikuti langkah Aisyah menerobos hamparan teh menuju ibu-ibu pemetik teh. “Maaf bu, minta fotonya ya..”. “Monggo…(silahkan)”. Karena kata-kata monggo itulah, secara bergantian kami langsung pasang aksi layaknya seorang pemetik teh yang menjalankan tugasnya. Wadoh! ibu-ibu itu terlalu cepat mengerjakan tuganya, jadi waktu mau difoto, orangnya sudah lenyap. Kesempatan selalu ada jika kita berusaha. Akhirnya ada seorang pemetik teh yang kelihatannya bersahabat. Dan beliau mempersilahkan kami untuk mengambil gambarnya. Tanpa diduga, eeh Ibu pemetik tehnya malah berhenti metik teh, melihat kamera dan pasang aksi kayak model. Lho bu’, maunya kita tuh, kita foto bareng-bareng, trus kita membantu ibu metik teh, kita pura-puranya jadi picker’s tea gitu lho buu’, jadi ibu ya ndak usah liat kamera dan metik tehnya tetep lanjuu…t. Tapi apa mau dikata, lha wong ibu pemetik tehnya juga pengen berpose. Alhasil, foto yang terambil adalah kita sebagai pemetik teh, dan Ibu pemetik teh sebagai model dalam suatu pemotretan. Goog good good.
Saat pulang aku dan Aisyah salah ambil jalan. Jadi kita harus memutari kebon teh dalam jarak yang amat sangat panjang sekali. Dasar narsis!!! Di tengah tersesatnya jalan kami, aksi ceprat-cepretpun masih berlanjut. Alhamdulillah, akhirnya kita menemukan jalan yang benar, naik angkot dan ……… pulang.
Nice Holiday……
Created by: Sholehah