WELCOME

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang senantiasa mencurahkan berbagai macam ni'mat dan karuniaNya kepada kita semua. Atas inayah Allah jugalah kami dapat menyelesaikan pembuatan blog ini. Sholawat dan salam semoga selalu tersanjung kepada Nabi Muhammad SAW juga kepada para keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang tetap teguh dan istiqomah memegang teguh ajaran beliau hingga akhir zaman.

Artikel dan tulisan dalam blog ini sebagian diambil dari berbagai sumber dan sebagian lagi ditulis sendiri oleh penulis, yang mungkin beritanya tidak dapat dikatakan baru lagi, namun demikian kami berfikir bahwa nilai sebuah ilmu tidak akan lekang ditelan perjalanan waktu, sehingga kami berbesar hati dan berharap bahwa apa yang kami buat ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

Kami menyadari bahwa dengan pengetahuan dan kemampuan kami yang terbatas, sangat memungkinkan terdapatnya kesalahan dan kekurangan dalam blog ini. Untuk itu kami mohon maaf atas keterbatasan dan kekurangan tersebut.

Sabtu, 02 Agustus 2008

TEA OR TEA

Suatu kebiasaan yang tak asing jika aku tiba-tiba berada di tempat tidur Aisyah. Namun ini adalah hal yang lain dari pada yang lain. “The Door” city yang kini jadi rumah keduaku akan aku jadikan sarana tercapainya salah satu misi liburan semester kali ini..Yach.. hunting spuasssnya…

Sesuai kesepakatan dalam perjanjian. Maka, setelah visa Aisyah tinggal di Mbayang habis, maka akulah yang bertolak menuju The Door city demi menikmati wisata andalan Aisyah “Kebon Teh Wonosari”.

Sepulang dari Sumberjo (tempat terbukanya berbagai pintu untukku dan Aisyah), 471nomoto menjadi tujuan kedua. Jadi sekitar jam sembilan malam kami baru tiba di The Door city. O yaa,, waktu di Sumberjo HPnya Aisyah jumping, eeh Aisyah malah kayak orang kesambet. Aku panggil-panggil ndak dijawab “Aisyah..Syah..itu jatuh..lho syah ambilen!!” “lho,kok diem”, yang lebih menakutkan lagi dia nggak bergerak SEDIKITPUN dalam waktu yang lammaa!. Hemm itulah salah sifat uniknya, kalau terkejut, sadarnya lumayan luama, biarlah, asal tidak amnesia saja. Hi..hi..

The Door City.
Nah inilah yang sangat aku nanti… Sebuah keluarga yang sangat memperhatikan kehadiranku. Walaupun aku datang tak diundang, tapi baik keberadaan serta kepulanganku senantiasa diperhatikan. Kekagumanku pada kelihaian memasak Ibu Aisyah sungguh tak terlukiskan. Bayangin aja SETIAP aku kesana, sebuah masakan kesukaanku sudah tersaji sebelum aku datang. Masakan berbahan dasar……Mushroom!!! Jenis masakannya bervariasi mulai dari semur, sop, tumis, bumbu bali lan sak lintunipun, dan yang paling aku suka adalaah… fried mushroomnya, ennaaaq BGT. Klau mashroomnya tidak ada, ada cadangannya, aku memiliki food favorite yang sama ma Ibunya Aisya, kacang gundhul. Biasanya dimasak pakai buah pepaya muda dan santan… hemmm nyummy. Thank you very much Mom..

Rutinitas ngomes sebelum do’a mau tidur membuat aku dan Aisyah bangun kesiangan. Saat-waktu menunjukkan anak onta mulai kepanasan yang amat panas, aku dan Aisyah berangkat menuju “Kebon Teh Wonosari”. Selama perjalanan, aku mempunyai guide yang tidak mengecewakan. “Itu lho rumahnya Rika”, “aku dulu ngaji di situ”, “lihat, itu pondokan baru”, “turun di kebun teh dekat kolam aja ya”, “nanti fotonya di panggung diatas kebon saja” wez…guideku pokoke siip!.


Hamparan teh menarik imajinasiku untuk naik dan berjalan diatasnya. Tapi, gaya narsis aku dan Aisyah meluluhkannya. Bakat alamiah kami langsung keluar. Cepret sana, cepret sini, cepret, cepret. Ugh.. laksana sebuah pemotretan model kelas atas. Bahkan seorang pengunjung rela meluangkan waktunya untuk mengambil gambar imut kami. Bagai pinang berbiji satu, ternyata dua otak insan ini mempunyai tujuan yang sama “pasang aksi dengan para pemetik teh”. Ku telusuri jalan setapak demi bertemu pemetik teh yang belum selesai memetik teh. Setelah bertemu, ternyata mereka sedang makan siang. Tak terelakkan ternyata perut kamipun membutuhkan suplay makanan juga. Sambil menunggu, santapan beberapa snack dan ice cream memenuhi rongga usus kami. DASAR LEMOT, makannya kelamaan. So, waktu mau disamperin, pemetik tehnya sudah pulang.. Hiks..hiks… Kecewa..? Pasti!!!

Tidak patah semangat, kami turun ke kebon teh yang ada di bawah. Kami percepat langkah tak perduli hingga nafas terengah-engah. Alhamdulillah, pemetiknya masih ada. Dengan semangat empat lima, kuikuti langkah Aisyah menerobos hamparan teh menuju ibu-ibu pemetik teh. “Maaf bu, minta fotonya ya..”. “Monggo…(silahkan)”. Karena kata-kata monggo itulah, secara bergantian kami langsung pasang aksi layaknya seorang pemetik teh yang menjalankan tugasnya. Wadoh! ibu-ibu itu terlalu cepat mengerjakan tuganya, jadi waktu mau difoto, orangnya sudah lenyap. Kesempatan selalu ada jika kita berusaha. Akhirnya ada seorang pemetik teh yang kelihatannya bersahabat. Dan beliau mempersilahkan kami untuk mengambil gambarnya. Tanpa diduga, eeh Ibu pemetik tehnya malah berhenti metik teh, melihat kamera dan pasang aksi kayak model. Lho bu’, maunya kita tuh, kita foto bareng-bareng, trus kita membantu ibu metik teh, kita pura-puranya jadi picker’s tea gitu lho buu’, jadi ibu ya ndak usah liat kamera dan metik tehnya tetep lanjuu…t. Tapi apa mau dikata, lha wong ibu pemetik tehnya juga pengen berpose. Alhasil, foto yang terambil adalah kita sebagai pemetik teh, dan Ibu pemetik teh sebagai model dalam suatu pemotretan. Goog good good.

Saat pulang aku dan Aisyah salah ambil jalan. Jadi kita harus memutari kebon teh dalam jarak yang amat sangat panjang sekali. Dasar narsis!!! Di tengah tersesatnya jalan kami, aksi ceprat-cepretpun masih berlanjut. Alhamdulillah, akhirnya kita menemukan jalan yang benar, naik angkot dan ……… pulang.

Nice Holiday……


Created by: Sholehah

TERUNTUK DIRIMU GURUKU

Seindah mentari pagi

Merekah rasa di hati

Bergejolak

Ku ingin teriak

Wahai dunia…. Lihatlah

Tugasku telah ku tuntaskan

6 tahunku telah terselesaikan


Tapi,

Segumpal sesak memenuhi hati

Haruskah kutinggal

Masa indah ini

Ya Allah, bagaimana bekal ini harus ku balas

Lidahku lancar mengucap do’a

Mataku lihai membaca

Angka-angka mudah terjumlah

Ilmuku laksana jagad raya


Bapak Ibu guru tercinta

Trima kasih tak terhingga dari kami


Masihkah kau marah padaku…?

Banyak ku abaikan nasehatmu

Masihkah kenakalanku membekas di hatimu…?

Ooh guruku..

Ku akui salahku

Beribu ilmu ikhlas kau beri

Berjuta tingkah kami,

Namun kau tetap peduli


Tak terkira sayangmu padaku

Begitupun cintaku padamu

Wahai guruku


Biji yang kau tanam kini telah matang

Ijinkan aku untuk melangkah


Terima kasih dan maaf yang bisa terucap

Kupinta do’a dan restumu

Kan ku ukir namamu di hati

Laksana prasasti


Read by : Ika Nur Wahyuni

Choir by: Arifin, Elsa, Ulil, Rista, Bida, Nida, Eva, Hendra, Gunawan, Jila, Cahya, Mega, Agung, Dyah dan Muji


Sayang..., selamat yaa…

Semoga Allah senantiasa membimbing langlahmu.

Manfaatkan Ilmumu

Semoga jalan indah membentang untukmu.

Kalian murid pertamaku, kalian yang menemani awal karirku..

Thank you and….

I Love You so Much…

created by: sholeha

Selasa, 15 Juli 2008

PERMADANI HIJAU

Sebut daerah itu dengan mbayang. Mengapa disebut demikian? Dengan rasa bangga Sabil adik sholehah bercerita bahwa daerah tempat tinggalnya dikatakan demikian karena tak lepas dari ulah seorang kyai yang memberi pengajian dan mengatakan bahwa nama tempatnya saja mbayang berarti orang-orangnya seneng sembahyang (suka sholat), letaknya di Pandan Sari Lor anda yang bukan bermukim asli Malang mungkin tak akan tahu daerah tersebut. Bahkan teman saya sendiri yang domisili Malang ada yang tak mengerti dimana letak daerah itu. Maklum daerah sekecil itu tak akan disebutkan di Peta tingkat wilayah nusantara apalagi globe. Liburan semester ini memang sengaja kukhususkan waktu untuk berjalan-jalan menginjak alas lain yang sekiranya bisa menyejukkan pikiran sekaligus hati dengan mencari suasana baru di daerah pedesaaan.

Setiap mata memandang sepanjang perjalanan yang kutemui adalah hamparan hijau padi dengan sengkedan-sengkedan yang tertata indah, walaupun jalannya meliuk-liuk bagaikan tubuh ular yang tengah naik tangga tapi tak melepaskanku dari tawa riang dan terkagum-kagum karena pemandangan indahnya alam yang berjajar rapi di kanan kiri jalan. “Pegangan perutku, Syah” ujar Sholehah selama perjalanan menaiki jalanan lenggang di tengah permadani hijau itu. Tak kuhiraukan anjuran sobatku, karena kalau aku memegang perutnya pasti ingin rasanya kugelitiki perutnya sampai kaku, sebab itulah salah satu rutinitas yang biasa dilakukan sebelum beranjak tidur bersama disamping rutinitas-rutinitas yang lain tentunya. Sebenarnya dari tadi aku ingin mulai jepret sana jepret sini tapi kuurungkan niatku karena posisi berkendara terlalu labil untuk segala macam posisi jatuh.

Memang selama di perjalanan itu cukup menegangkan tapi kelihaian Sabil mengndarai sepeda motornya membuatku menaruh kepercayaan sepenuh hati dan InsyaAllah kami akan selalu diantar sampai tujuan dengan selamat olehnya (thank a lot Sabil).

Selama disana kami berjalan-jalan di sungai tempat seseorang membuang surat-surat dan segala macam benda kenangan tapi aku gak punya hak untuk menceritakan itu… Oke lanjut ke ceritaku, disana kami membeli es yang dibalut dengan roti tawar diselimuti plastik. Kami memakannya diatas jembatan menuju sungai hem..yam..yam…, Wah enak sekali udaranya seger banget apalagi air dalam sungai Wuih…Dingin…Berr….bulu kakiku sampai berdiri semua. “Syah kita ke jurang yuk..” aku mengiyakan ajakan sobat kecilku kami berpose macam artis sampul majalah dalam berbagai gaya disana, sengaja tak kami pasang disini karena kami tidak ingin para pengunjung blog menjadi antusias. Yah maklum kami belum ingin menyaingi kepopuleran wajah cantiknya artis-artis ibukota (wakkk…PeDe amat!!!)

Sebelum pulang kami sempatkan mampir ke sebuah perpustakaan milik pribadi kepunyaan tetangga Sholehah. “Kalau mau daftar bayar berapa, mas?” Tanya seorang pengunjung “Oh, gak usah bayar mbak cukup nulis nama sama alamat saja cukup” ucap pemilik perpustakaan bernama mas Eko itu. “Terus kalau mau pinjam?” Tanya pengunjung lagi. “Yah tinggal ambil buku terus dicatat abis itu bawa pulang, tapi nanti kalau sudah selesai jangan lupa dikembalikan mau pintar aja kok mahal mbak” ungkap pendiri perpustakaan anak bangsa itu.

Yah, aku cuma bisa mengangguk kagum pada setiap jawaban yang diberikan. Ternyata di pelosok belahan bumi Indonesia yang anggota dewannya terkenal doyan duit dan wanita ini masih ada sosok pemerhati pendidikan seperti dia. Sukses terus Perpustakaan Anak Bangsa (diharapkan sumbangan berupa buku atau majalah demi kelangsungan perpustakaan ini…)

Created by: Aisyah

Sabtu, 28 Juni 2008

MUNGIL Dan Kawan-kawannya

Dia begitu mungil dan centil

Setiap yang memandang seketika menjadi jatuh hati

Dia begitu imut saat berseloroh

Setiap kau dekati pasti ingin meraihnya

Dia begitu merona saat disentuh

Begitu melihat kau pasti ingin memilikinya

Dia begitu anggun saat bersama terjajar dan tersusun

Hingga melahirkan liur bagi birahi

Jangan-jangan pernah mencoba mengambilnya sendiri

Karena dia begitu enggan berpisah dengan sahabatnya

O…Cilok kaulah penebus rasa lapar disaat kepepet

dan aku hanya akan melahapmu dalam buntalan plastik

serta tusukan bambu runcing.

Makan cilok di pinggir jalan merupakaan rutinitas mahasiswa UM yang sudah merakyat hingga sekarang hal ini masih menjadi sebuah tradisi bagi mereka-mereka yang lapar dan kekurangan waktu serta biaya untuk membeli makanan yang bergizi.

Salam manis dan sayang selalu by: Aisyah