“Sesungguhnya Allah SWT apabila hendak membinasakan seseorang, dicabutnya dari orang itu sifat malu. Bila sifat malu telah dicabut darinya, engkau akan mendapatinya dibenci orang, malah dianjurkan supaya orang benci padanya, kemudian bila ia telah dibenci orang, dicabutlah sifat amanah darinya. Jika sifat amanah telah dicabut, kamu dapati ia menjadi seorang penghianat. Jika ia talah menjadi penghianat, dicabutnya sifat kasih sayang. Jika telah hilang kasih sayangnya maka jadilah ia seorang yang terkutuk. Jika ia telah menjadi orang yang terkutuk maka lepaslah tali Islam darinya.”
(HR. Ibnu Majah)
Perbedaan signifikan antara manusia dan binatang terletak pada anugrah akal yang tak sebanding dengan yang dimiliki oleh ciptaan Allah SWT yang lainnya. Kenikmatan istimewa tersendiri yang dapat dirasakan manusia. Tiada resah melanda jika sang ayam berlenggak lenggok tanpa selembar kain tertambat. Namun apa jadinya jika selembar kain tipis yang memudahkan sirkulasi udara menempel pada kulit wanita yang seharusnya tak terawang.
Seiring bergulirnya zaman. Berpakain tanpa berbusana atau kawin tanpa nikah merupakan keterbiasan yang berpedoman pada kelakuan binatang telah menjadi suatu hal yang lumrah walaupun banyak orang memandang sinis terhadap peristiwa tersebut. Tapi manakala si pelaku mempunyai rasa malu, tentunya perbuatan itu akan terhenti setelah ia tersadarkan. Rasa malu yang akan mengendalikan tingkah laku manusia, rasa malu akan timbul jika tahu akan ilmunya namun bagaimana ilmu bisa terlaksana jika ketidaktahuan akan ilmu menjalar pada otak manusia???
Tidak cukup sekedar ilmu. Karena tak terhitung ilmu yang terserap tanpa pengaplikasian. Tentunya manusia munkar saja yang melakukannya, manusia yang tidak tahu malu. Ilmu yang merupakan anugrah Allah SWT sebagai pembuka mata hati tersingkirkan sia-sia. Tidak cukup sekedar tahu dan berilmu, untuk malu diperlukan kekuatan Iman. Ilmu dan Iman. Kata kunci yang sangat mudah untuk diingat. Tiada malu tanpa ilmu, tiada ilmu tanpa iman. Pantaslah jika Rasulullah SAAW bersabda “Rasa malu adalah sebagian dari Iman”
Rasa malu ibarat rem cakram yang akan mengendalikan perbuatan seseorang. Rem ini akan megendalikan diri dari perbuatan yang bertabrakan dengan norma. Betapa banyak kerusakan melanda, jika malu telah binasa. Segala perilaku yang terjadi menjadi tidak terkontrol. Free sex, kumpul kebo, mini clothes,berjilbab tapi telanjang, korupsi dan dua teman dekatnya (kolusi dan nepoteisme), praktek pembunuhan dan praktek pembantaian mengalir begitu saja. Hilangnya rasa malu melanda mulai dari orang awam yang memang tidak berilmu hingga pejabat kelas atas yang mungkin terlalu berilmu!?!. Begitu hebatnya bancana yang timbul akibat tak ada rasa malu. Marilah kita belajar dari sindiran Rasulullah SAAW “Jika rasa malu hilang, maka lakukanlah apa saja oleh kalian sesuka nafsu kalian.”
Sungguh hina perbuatan tanpa didasari rasa malu.
Rasa malu yang sudah bertengger dalam hati serta berpagar iman, akan mejernihkan akal agar dapat menimbang halal dan haram atau hak dan batilnya suatu perbuatan. Sekarang dimana malumu kawan? Tak adakah rasa kasihan mendengar jeritan kulitmu kawan? Kasihan juga tempat-tempat umum itu, yang terlalu sering kalian sebut “segalanya hanya milik kita berdua”, kena pajak lho friend! Dimana malumu? Dampak KKN telah terbagi rata di seluruh Indonesia. Dengarlah kawan jerit hati salah seorang penerima beasiswa pendidikan dari pemerintah, kegalauan melanda karena tahut akan dana beasiswa yang mengalir telah tercamar hak-hak anak miskin yang salah jalur. Entahlah.. Wallahu’alam Bishshowab..
Crerated by : Dian Ayuning S.P (sholehah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
koment