WELCOME

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang senantiasa mencurahkan berbagai macam ni'mat dan karuniaNya kepada kita semua. Atas inayah Allah jugalah kami dapat menyelesaikan pembuatan blog ini. Sholawat dan salam semoga selalu tersanjung kepada Nabi Muhammad SAW juga kepada para keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang tetap teguh dan istiqomah memegang teguh ajaran beliau hingga akhir zaman.

Artikel dan tulisan dalam blog ini sebagian diambil dari berbagai sumber dan sebagian lagi ditulis sendiri oleh penulis, yang mungkin beritanya tidak dapat dikatakan baru lagi, namun demikian kami berfikir bahwa nilai sebuah ilmu tidak akan lekang ditelan perjalanan waktu, sehingga kami berbesar hati dan berharap bahwa apa yang kami buat ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

Kami menyadari bahwa dengan pengetahuan dan kemampuan kami yang terbatas, sangat memungkinkan terdapatnya kesalahan dan kekurangan dalam blog ini. Untuk itu kami mohon maaf atas keterbatasan dan kekurangan tersebut.

Selasa, 10 Juni 2008

MALANG JADOEL

Tertanggal 22 April 2008 hingga 25 April 2008 kota Malang menggelar acara tahunan yang pasti akan terjadi dan berulang. Acara yang backingnya pelestarian budaya, khusunya budaya Malang ini populer dengan nama “Malang Tempo Dulu”. Benarkah MTD hanya membawa arus pelestarian budaya semata?? Tak adakah yang lain??

Perjalanan sepanjang ijen ternyata bukan sebagai refresing belaka. Jika mata sanggup berinteraksi dan telinga siap mendengar tentunya berbagai celoteh masyarakat dengan ikhlas meluncur tanpa diminta.

Siapa lagi yang mau berpartisipasi dalam MTD kalau bukan Kera Ngalam sendiri. Acara ini sudah berlangsung dalam pekan yang lama. Apa jadinya kalau dalam satu tahun MTD tidak terselenggara. Anggapan buruk masyarakat terhadap para penggede Malang city tentunya akan mengalir juga. Ini kan melestarikan budaya. Jarang-jarang bisa nonton ludruk gratis kalau tidak di MTD. “Kesempatan bisa jualan kayak gini juga menyenangkan.” “Bisa berpakaian ala tempo dulu dan melayani pertanyaan para pengunjung MTD yang kadang tidak tahu maksud dari menu yang tertera”.” Semua ini dikarenakan tulisan menu menggunakan ejaan tempo dulu, sungguh pengalaman unik tersendiri.” Ungkap salah seorang penjual Sego Golong. Yang kebanyakan pengunjung salah mengucapkannya, sehingga menjadi sego gulung, atau pengunjung yang mau membeli kue kesulitan membaca tulisan koetcoer (kucur), dan itu membuat para pengunjung berdiri cukup lama hanya untuk membaca nama menu saja.

Para mahasiswa yang setiap saat berperan sebagai pengguna jalan ijen tentunya sangat terganggu dengan adanya acara ini. Perjalanan molor hingga 30 menit menjadi langganan tahunan. Jalur kendaraan menjadi lebih panjang karena harus dialihkan pada jalur lain. Belum lagi jika macet melanda. Hati dongkol namun tidak bisa menyalahkan siapa-siapa sungguh menjadi latihan istimewa bagi para mahasiswa meningkatkan kesabaran, Alhamdulillah…

Pakaian adat istiadat, wow great!! Benarkah seperti itu??

Walaupun assesoris di kepala tak nampak indah (sanggul), namun untuk pakain adat Jawa Timur termasuk nominasi pakian adat yang lumayan tertutup. Dengan batasan Kebaya sepanjang pergelangan tangan dan Jarik tersentuh mata kaki tentunya tidak terlalu merusak pandangan para ikhwan. Namun, pakaian adat ala MTD sungguh menggairahkan. Terucap dari mulut seorang ikhwan yang sempat bertugas mengedarkan brosur ESQ yang akan terselenggara di kampus UMM, “tak berani aku berlama-lama didalamnya, langsung aku sebar saja brosur tanpa melihat siapa yang menerima, kusebarkan mulai dari yang paling rapat hingga yang paling terbuka.” “masak mata yang masih kena dampak ESQ ini harus terkontaminasi dengan pandangan seperti itu”. Pakaian adat ala MTD kurang kain. Na’udzubillah… semoga harga kain tidak ikut melonjak seiring dengan harga BBM, atau masyarakat Malang nantinya tak kan ada yang berpakain.

Ada sebuah stan bertuliskan Islam Klasik ikut berjejer di sepanjang ijen. Sepasang mata akhwat tertegun melihat dua kata yang berjejer itu, spontan saja keluar dari bibirnya “Tak ada Islam Klasik, Islam adalah Islam!!” “baik dulu atau sekarang Islam tidak akan pernah berubah!!”. Setuju empat jempol dengan pernyataan yang terlontar tersebut. Islam adalah agama yang senantiasa terjaga keasliannya, tanpa ada keraguan. Perbedaan ajaran tiap-tiap aliran tidak bisa diartikan dengan ajaran Islam Klasik atau ajaran Islam Modern. Tiap yang memilih jalan tentunya mempunyai landasan. Islam tetaplah Islam!!

Satu lagi yang sempat terekam my echonic. Allow pemimpin kota Malang??? How are you to day??? Are you happy with MTD event??? What about the other problem that happen on Malang city??? Are you forget??

Aisya say (redactional change) “Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk sebuah even MTD?” “Seberapa banyak perhatian tercurahkan untuk sebuah even MTD?” “Kenapa dana tidak disalurkan untuk bidang lain yang lebih membutuhkan.” “Kegiatan yang sungguh hanya menghambur-hamburkan uang.” “Masih banyak masyrakat Malang yang kekurangan dana, apalagi setelah dihari keempat MTD, secara resmi BBM naik peringkat. Kok tidak buat subsidi saja. Sudah lupa ya…

Malang Jadoel, mengesankan perbedaan cerita dalam setiap kaca mata. Kebijakan hati dalam menilai menjadi pilihan pertimbangan setiap insan. Jangan memandang sebelah mata, karena itu Allah SWT menciptakan satu pasang mata untuk kita. Hikmah dua mata akan terasa saat masalah dapat diperas melalui dua sisi yang berbeda. Bijaksanalah kawan.

Created by: Dian Ayuning S.P (sholehah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

koment