WELCOME

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang senantiasa mencurahkan berbagai macam ni'mat dan karuniaNya kepada kita semua. Atas inayah Allah jugalah kami dapat menyelesaikan pembuatan blog ini. Sholawat dan salam semoga selalu tersanjung kepada Nabi Muhammad SAW juga kepada para keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang tetap teguh dan istiqomah memegang teguh ajaran beliau hingga akhir zaman.

Artikel dan tulisan dalam blog ini sebagian diambil dari berbagai sumber dan sebagian lagi ditulis sendiri oleh penulis, yang mungkin beritanya tidak dapat dikatakan baru lagi, namun demikian kami berfikir bahwa nilai sebuah ilmu tidak akan lekang ditelan perjalanan waktu, sehingga kami berbesar hati dan berharap bahwa apa yang kami buat ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

Kami menyadari bahwa dengan pengetahuan dan kemampuan kami yang terbatas, sangat memungkinkan terdapatnya kesalahan dan kekurangan dalam blog ini. Untuk itu kami mohon maaf atas keterbatasan dan kekurangan tersebut.

Selasa, 10 Juni 2008

Pertemuan Tak Terduga

Sejak aku mulai berdikari menuntut ilmu dalam jenjang perkuliahan S1 ini, aku sering dikejutkan dengan pertemuanku pada hal-hal yang terduga sebelumnya. Sesuatu yang wajar dan membanggakan kalo sampai akhirnya aku melihat wajah dan bisa mendengar ceramah singkatnya seorang M.Quraishihab lulusan Al-Azhar University secara live sebab dia secara khusus diekspor dari Jakarta untuk memberi kuliah tamu pada sore nan sejuk di UM kala itu. Sangat kebetulan pula seorang Bupati kota Malang datang meresmikan sebuah lapangan tembak di Kecamatanku kemudian kami para pemegang amanah pendidikan (chie…sombong dikit tapi semoga niatnya terkabul) para guru dan stafnya diterjunkan langsung untuk ikut serta dalam upacara dan ikut melambaikan tangan padanya, walaupun bukan suatu peristiwa besar seenggaknyakan pernah gitu ketemu secara live bahkan jarak kita hanya 2 meter walaupun gak ngomong babar blas sama Pak Sujud (semoga beliau termasuk orang yang ahli sujud)…. Sebuah anugerah indah bisa mengkaji ilmu islam lebih dalam di masjid As-Salam bersama ustadz Abdullah setiap hari ahad pagi secara live, jadi kalo biasanya cuma mendengarkan lewat radio ini bisa seruangan dengan beliaunya walaupun ada sekatnya sih (yah, gimana lagi namanya juga tidak sejenis). Sebuah kenikmatan tersendiri bisa ketemu Mrs.Yandra yang mahfum bercas-cis-cus ngomong bahasa bukan planet dan membuat teman-teman tambah puyeng tiap di beri jurus baru bercas-cis-cus dalam bahasa bukan planet kita tentunya (afwan kalimat yang ini agak diberi jilbab jadi jangan terlalu dipusingkan). Yah, jadi pada intinya semakin tambah jenjang pendidikan semakin sering ketemu sama orang kebetulan tenar dalam bidangnya masing-masing.

Termasuk ketemu dengan gerombolan yang satu ini, yang sangat lihai dalam berkesenian dan olah keterampilan tangan. Gak tahu sekolah dimana sampai bisa ahli olah gerak gitu, padahal kalo pura-pura mau bayangin aku diposisi mereka waduh, sudah bukan tetesan keringat dari pori-pori yang kecil keluar tapi jagungnya keringat (red = baca, keringat segede jagung). Sungguh bidang yang mereka geluti sarat dengan sejuta resiko yang menantang tapi mereka gak pernah kapok untuk tetap bermain api dalam bidang pekerjaan ini. Salut nieh sama semangat juang mereka untuk bekerja, yah gimana gak semangat lha mereka kan cuma butuh menutupi tangan mereka dengan koran atau jaket yang sengaja dibawa untuk kemudian ndudut (red = mengambil) barang apapun yang berharga di dalam tas penumpang seperti handpone atau dompet, setahuku baru dua barang ini yang sering jadi incaran mereka (ditegaskan penulis tidak berminat menjadi pengamat pickpocket hanya kebetulan teramati). Yah kalo dalam pelajaran ekonomi dulu sempat dijelaskan dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Tampaknya prinsip ini dianut secara takzim oleh gerombolah tersebut. Bayangkan saja kalo setiap satu kali naik angkot mereka mendapat satu handphone harganya paling murah katakanlah 450.000 – 2.500 (untuk bayar ongkos naik) – 25.000 (royalti supir angkot:info ini diketahui dari sopir angkot yang telah bertobat) = 313.500 (ini profitnya) lumayankan….coba buat beli krupuk yang Rp.100,- dapat berapa itu wah, pasti banyak sekali. Maka Waspadalah….waspadalah!!

Ada Cerita

Waktu itu kebetulan tidak ada perkuliahan, jadi sambil mengisi kekosongan mbak Yani teman seperjuanganku mengajak mengunjungi perpustakaan khusus akhwat di masjid UB. Tanpa perlu ditawari dua kali aku langsung beranjak dan segera mengajaknya meluncur ke tempat yang dipenuhi dengan rak dan istrinya siapa lagi kalo bukan buku-buku. Karena mentari sudah mulai enggan bersinar akhirnya kamipun beranjak dari tempat itu sebab perpustakaan memang selalu tutup pada jam 5 sore, sebelum kami diusir petugas kamipun pulang. Karena tujuan kami tidak searah akhirnya kami berpisah. Aku yang selalu mengandalkan jasa transportasi umum bernama mikrolet ini segera saja mencari sosok berwarna biru muda yang bisa mengantarku menuju arjosari. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya datang juga mobil yang berjasa mengantar dan menjemput penumpang bernama mikrolet jurusan Arjosari-Landungsari itu. Singkat cerita aku sudah berada di dalamnya sampai akhirnya tiba di stopan di bawah jembatan layang terminal dadakan tempat mikrolet Lawang-Arjosari dan Bison serta Bus jurusan Surabaya dan sekitarnya mencari penumpang sambil menunggu menyalanya lampu hijau akupun menyuruh sopir berhenti dan turun. Aku oper ke mikrolet lain berwarna hijau pupus bertuliskan LA (jurusan Lawang-Arjosari) yang setia mengantarku sampai ke pasar Lawang. Karena mikrolet ini sering penuh penumpang maka agar bisa bernafas lega aku memilih tempat duduk dekat dengan pintu tepatnya di belakang tempat duduk penumpang sebelah sopir, aku duduk menghadap ke arah belakang, walaupun bangkunya sedikit lebih kecil dan harus sedikit membungkuk sebab kursi di belakangku sandarannya terlalu mundur. Akhirnya aku berniat untuk pindah posisi duduk. Namun baru mau beranjak ada seorang penumpang yang pernah kutemui bersama temanku Rika teman kuliahku mengambil handphone ibu-ibu di mikrolet AL, aku hafal betul wajahnya karena waktu itu kami seperti tak berdaya hanya melihat aksi pencopet dengan gigi gemelatuk dan tetap tak berbuat apa-apa untuk menolong si ibu yang handphonenya dicuri di depan hidung kami. Sehingga sepanjang perjalanan setelah turun dari mikrolet kami cuma bisa menggerutu dan mengutuki bodoh-bodoh pada diri kami. Karena tak ingin menyesal untuk kedua kalinya aku bertekad tak akan kubiarkan copet satu ini menjalankan aksinya walaupun aku pulang tanpa teman saat itu.

Akhirnya aku memilih tetap duduk di tempatku posisiku cukup membantu untuk terus menerus memandangi tangan dan mata pencopet. Ku awasi terus hingga dia tak segera beraksi, dia hanya duduk lirik kana-kiri bersandar menungguku mengalihkan pandangan (jangan harapkan itu karena takkan kubiarkan kamu merampas yang bukan hakmu, karena aku adalah pembela kebenaran pembasmi kejahatan dan aku bukan superman….). Dari pandangan matanya tampaknya dia mengincar handphone milik wanita yang duduk disebelahnya, benda itu baru saja dikeluarkan dari sarangnya sebab tampaknya wanita itu baru saja menerima sms. Dia melihat sekeliling apakah ada yang memperhatikan atau tidak agar dengan mulus dapat menjalankan aksinya merogoh tas korban. Biasanya dia akan berpura-pura membaca koran untk menutupi aksinya tangan kirinya memegangi koran kemudian tangan satunya mulai beraksi (yang satu ini punya ciri spesialis dengan alat koran adapula yang memakai jaket yang ditaruh di tangan). Karena pandangan mataku tak pernah lepas dari tangan dan gerak tubuh pencopet maka dia tak segera menjalankan aksinya. Sampai akhirnya penumpang wanita di sebelahnya turun, akupun memekik dalam hati Alhamdulillah hore…..!!!!!! sambil tersenyum tipis. Pencopet tampak duduk gelisah karena sedari tadi aku tetap saja pasang wajah tepat pada setiap gerak badannya. Hingga pada akhirnya tinggal 4 orang penumpang, dengan keadaan mikrolet yang lenggang copet itu tak bisa berbuat banyak. Karena yakin pencopet tak akan menjalankan aksinya akupun menggeser posisi dudukku (sebab sedari tadi dia tak membuka korannya), capai juga duduk dalam posisi seperti itu terus. Sekarang aku duduk tepat menghadap ke jalan di depan pintu. Setelah aku pindah ternyata pencopet membuka korannya yang sedari tadi dibawanya, waduh aku salah ternyata dia merasa bebas beraksi sekarang. Tiba-tiba saja aku menoleh ke arah pencopet dan dalam rentan waktu sepersekian menit per sekon itu tangan sudah menjangkau tas pemuda yang duduk di depannya. Karena aku menoleh dengan tiba-tiba pencopet segera menarik tangannya dan menegakkan koran yang sedang dipegang. Akhirnya aku duduk agak serong sehingga mukaku kuhadapkan tepat pada tas yang jadi incaran itu. Walhasil sang copet wurung lagi beraksi. Sampai akhirnya pemuda dengan tas besar itu turun dan lagi-lagi aku memekik Alhamdulillah…. seraya tersenyum tipis (rasain gak dapat mangsa!!!!!). Sepertinya pencopet mulai jengkel pada ulahku, maka setelah seorang ibu yang duduk dekat pemuda itu turun juga tinggallah aku dan pencopet di dalam mikrolet (berduaan bu…!!!yah gimana lagi gak ada angkot khusus akhwat!!). Dengan sigap pencopet segera menggeser duduknya persis berada di sebelahku. Kemudian secara sengaja dia menendang kakiku, aku senyum dan diam saja karena memang tak sakit. Karena untuk sampai tempat tujuanku masih agak jauh, lama-lama aku takut juga duduk dekat-dekat dengan pencopet yang setiap kali kutemui selalu mengenakan baju yang sama (atasan biru muda, bawahan biru gelap dan bersepatu, bawa tas kerja) mungkin ini seragam untuk pencopet kali atau memang dia gak punya baju lain. Terserahlah yang jelas waktu itu aku agak ketakutan jangan-jangan nanti kalau turun aku diikuti, waduh kayaknya dia sudah hafal mukaku…., maka aku menyuruh sopir berhenti dan pindah tempat duduk di depan di samping pak sopir. Pasar Lawang yang ramai orang sudah tampak dengan semangat 2008 (semangatnya mahasiswa menolak kenaikan harga BBM) dan sedikit rasa was-was aku turun dari mikrolet setelah membayar ongkos tentunya. Entahlah tiba-tiba aku membalikkan badan menghadap pencopet yang masih duduk dalam mikrolet dan kami saling beradu pandang dia memandangiku dan aku sadar dia ingin menghafalku setiap inci wajahku, aku tersenyum padanya lalu melambaikan tangan tanda perpisahan….(seperti yang kulakukan bersama beberapa murid SD pada pak Sujud) setelah mikrolet itu berlalu. Eh…, bukannya balas tersenyum dan melambai dia malah mengacung-acungkan kepalan tinju lewat kaca belakang mobil. Nah, kalau yang seperti ini copetnya rugi Rp. 2500,- karena harus bayar dan gak dapat korban (kacian deh lue..!!!).

Created by : Anik Susanti (aisyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

koment